“Muv lo kapan mau lulus?” tiba-tiba saja teman kampus mengagetkanku.
“Hemm… kapan yah?” jawabku sekenanya.
“Yang lain udah pada mau skripsi tuh!” sambar dia yang mengingatkan ku
untuk fokus kuliah.
“Iya nih… lagi asyik jalanin
bisnis. Ketemu orang-orang hebat dan belajar dari mereka semua.”
Tahukah kamu, hidup yang terjadi sekarang adalah kumpulan
pilihan-pilihan di masa lalu. Pun hidupmu di masa depan adalah kumpulan
pilihan-pilihan yang kamu pilih di masa kini. Jika hidup kita ingin lebih baik,
lebih berdaya, dan lebih hebat lagi maka kamu perlu memilih pilihan-pilihan
yang mengarah ke arah sana.
Jangan sampai kita memilih pilihan yang tidak sesuai dengan tujuan hidup
kita. Contoh, kita ingin menjadi pengusaha kuliner, tapi setiap hari kita
memilih untuk main games dan menghabiskan waktu disitu. Jaka sembung naik
ojek, ngga nyambung jek!
Yah betul, tujuh tahun bagiku adalah waktu yang pas untuk
melang-melintang makan bangku kuliahan (sampe kenyang banget). Akan tetapi,
pengalaman diriku yang terbanyak bahkan bukan dari kuliah bahkan diluar itu.
Aku melatih public speaking justru di organisasi intra dan ekstra
kampus, melatih komunikasi dan negosiasi malah di bidang bisnis hingga babak
belur (baca = bangkrut). Plus melatih kemampuan leadership dan manajerial
belajar langsung dari orang-orang hebat di bidangnya, yah… bener-bener
hebat di bidangnya, minimal di persepsiku saat itu. Bagi aku kuliah 7 tahun,
bukan hanya menyelesaikan masa aktif kuliah selama 7 tahun dan mendapatkan
gelar Sarjana. Tapi juga sedang menyelesaikan gelar sarjana di universitas
kehidupan.
“Muv, lo ngapain sih nyari duit sendiri. Kan fokus elo harusnya belajar,
kuliah yang bener!” tanya teman yang lain bernada nyinyir.
“Lho memangnya kenapa?” jawab aku penasaran.
“Ya elo artinya enggak percaya sama orang tua elo! Kan orang tua sudah
nyari duit susah payah untuk biayai elo kuliah. Tapi kenapa elo enggak kuliah
yang bener!”
Ya tentu saja, universitas kehidupan. Universitas itulah yang
menggemblengku menjadi sosok pembelajar abadi, mempunyai impian yang besar
(karena orang-orang besar mempunyai impian yang besar), mempunyai teman-teman,
sahabat-sahabat, guru-guru kehidupan yang mengajari aku langsung tanpa sistem
nilai A,B,C,D,E bahkan tanpa memakai sistem SP (semester pendek) yang mungkin enggak
kudapat kan di bangku kuliah, bahkan kalaupun diri ini lulus jadi sarjana di
universitas kehidupan, aku akan melanjutkan S2, S3, S4, S5 dan tidak akan
pernah berhenti belajar dari kehidupan di universitas kehidupan sampe badan ini
habis dimakan rayap.
“Muv, gila yah temen-temen kita. Udah pada kerja, udah pada sukses dan
udah pada mapan, ada yang udah punya bisnis sendiri punya banyak karyawan, mobil pada keren-keren lagi. Rumah udah pada
punya.”
Maklumlah cerita ini diangkat memang ketika kami berdua sedang berjuang
dengan darah, keringat dan air mata, memperjuangkan segala impian-impian kami
dan mempertahankan harga diri ini (lebay dikit yah?), dan pada saat itu
momentumnya kita baru lulus dari kampus, tepatnya sekitar belasan tahun
yang lalu. Apalagi latar belakang kejadian ini kami habis menghadiri reunian
kuliah dan saya pun mengakui fakta yang dibicarakan oleh sahabat saya.
Dia pun melanjutkan kalimatnya, “Nah kita Muv! Masih gini-gini aja.
Huff…”
Nah, jujur saja, helaan nafas sahabat ku ini membuat tak nyaman. Tentunya
disamping kalimat-kalimat dia juga yah. Sensasi kala itu, benar-benar terekam
baik dikepala ku, hingga menambah daftar alasan untuk memantabkan terciptanya
tulisan ini.
Ya memang hal biasa kalau
keseharian kita selalu diiringi dengan keluhan dan penyesalan. Memang hal biasa
jika pikiran kita dirasuki hal-hal yang membuat tidak bersyukur, memang hal
biasa kalau memang hidup kita terus dihabiskan dengan rasa menyalahkan dan
alasan yang begitu berlimpahnya. Ya itu memang hal biasa.
Alhamdulillah, pada saat itu. Kalimat dan helaan nafas beliau bukan hal
yang biasa buat ku. Ada cambukkan kuat dalam diriku saat itu, ketika mendengar
ucapannya. Dan bahkan sempat pengen berteriak ditelinganya, “Kita? Elo kali..!”
hehehe… tapi kuurungkan niat, karena ingin terus mendengarkan riakan hatinya.
“Iya Ti, masa kita gini-gini aja sih?” kalimat repetisi penutup yang
membuat buluk kudukku berdiri.
Eits, tunggu dulu deh. Menurut kamu apakah hidup itu pilihan atau nasib?
Pernah enggak ada seseorang yang mengatakan rasa putus asanya, “Ah memang
sudah nasibnya!”
Kalau pernah mendengar itu dari teman kamu, saranku tinggalkan dia.
Mengapa? Karena nasib terbentuk hasil dari pilihan-pilihan kita. Karena kita
tidak mengetahui nasib kita, maka cara yang paling mudah mendeteksi nasib masa
depan kita, adalah peka terhadap pilihan-pilihan kita.
Tahu enggak kalau hidup adalah deretan pilihan?
Sadar enggak setiap saat kita sedang memilih?
Memilih untuk sakit atau sehat, memilih miskin atau kaya, memilih malas
atau rajin, memilih rebahan enggak jelas atau produktif, memilih teman yang buruk
atau yang baik, memilih main games atau membaca buku, memilih bekerja seadanya
atau berkarya sesuai dengan bakat serta bermilyar pilihan-pilihan kecil yang
akan membingkai arah masa depan kita dengan izin Allah tentunya.
Lalu mana yang sering kamu pilih? Kalau kamu memilih sehat, kaya, rajin,
produktif, teman yang baik, membaca buku, dan berkarya sesuai dengan bakat,
maka itu adalah kisi-kisinya tentang nasib masa depanmu.
“Coba waktu kuliah gue ikut lo Muv. Pasti gue juga bisa usaha nih…”
Tiba-tiba saja salah satu teman di kampus memberikan komentar di status
sosial mediaku.
“Memangnya kenapa gitu?”
“Ya gue juga pengen kaya lo Muv, enak yah… bebas, enggak terikat waktu,
dan bisa mengatur aktivitas sesuai dengan keinginan yah?” Jawabnya dengan nada
keluh.
“Alhamdulillah…” batinku saat itu. Padahal dia belum tahu, begitu luar
biasanya ketika aku membangun bisnis dari nol. Bangkrut, ditipu, tidak dipercaya
sama orang, dan hal-hal lain. Tapi kenapa diriku tetap bertahan disini?
Allahualam… bisa jadi karena dulu, aku sering memilih ini. Ketika yang
lain asyik dengerin dosen, eh aku malah jualan gorengan. Ketika yang lain sibuk
belajar untuk ujian, aku malah lagi presentasi bisnis. Ketika yang lain dag
dig dug dapat kerja apa enggak setelah lulus, eh aku malah dag dig
seeerrr cari tim untuk mengembangkan bisnis. Dan ketika yang lain bingung
kerja dimana, eh aku malah bisa keliling Indonesia. Masyaallah… nikmat mana
lagi yang aku dustakan.
So, apa pilihan kamu hari ini?

Comments
Post a Comment